Sejak dulu, saya senang mengamati kehidupan, sejak saya menemukan fakta bahwa sebagian besar orang tak seperti bagaimana mereka tampaknya, dan begitu banyak orang salah dipahami. Di sisi lain manusia gampang sekali menjatuhkan penilaian, judge minded, saya suka mempelajari motifasi orang, mengapa berperilaku begitu, mengapa ia seperti ia adanya, bagaimana bersikap atas seuatu situasi, apa saja prinsipnya, ternyata apa yg ada dalam otak manusia seukuran batok kelapa bisa lebih kompleks dari tatanan indah galaksi-galaksi dan kawan. saya bergairah menemukan kelas saya di Tarim,Yaman. Mahasiswa dari berbagai macam bangsa di dalam membuat kelas saya menjadi semacam laboratorium prilaku. Kelas saya bukan sekedar ruang untuk belajar hokum-hukum islam dan temuan-temuan ulama klasiknya tapi juga university of life.
Dimulai dari mahasiswa pribumi, yg tak lain adalah tuan rumah di jazirah gersang ini, mahasiswa yaman, mereka selalu berkoar koar, mereka paling meriah, belum selesai dosen menerangkan mereka tunjuk tangan: bertanya, berteori, membantah, mengeluh, protes, kadang terang terengan mengajak bertengkar. Namun meski mereka provokatif, tingkah laku mereka beradab, ini tak lain produk sekolah yg membiasakan mereka berbeda pendapat secara positif sejak usia dini. Selain itu di temukan catatan yg objektif bahwa orang yaman lah yg telah menyebarkan agama islam di bumi pertiwi kita itu, wali songo pemukanya.
Lebih sering diam, tertutup, dan menyendiri adalah sifat kebanyakan mahasiswa Somalia, hape yg mereka miliki sederhana, hape buat melempar kucing kata mahasiswa Indonesia, tak punya laptop, motor apalagi, keterpurukan negri mereka dalam segala aspek membuat mereka bersifat seperti itu, tapi jangan salah justru dg kebiasaan sering enyendiri itu mereka lebih sering mengulang mata kuliah mereka, jika anda mau meneliti nilai akademik mereka, anda akan memnemukan bahwa nilai mereka lebih tinggi dari mahasiswa Yaman, dingin dan slalu serius lah sifat yg selalu mereka tampakkan.
Namun solmet kita sebenarnya dalam kelas adalah mereka mahasiswa dari Tanzania, ramahnya sifat mereka dan mudahnya mereka bergaul menjadikan mereka dekat dg semua Ras, jika ada pertandingan bola antar negri di universitas tercinta kami ini yg kami tunjuk sebagai wasit pertandingan adalah mereka, memang mereka dekat dengan semua, tapi mereka sangan tegas, adil, dan bijaksana. Nilai akademik mereka tidak bisa diremehkan.
Kemudian tak kalah menarik adalah beberapa mahasiswa dari Borkenafaso, haha bahkan sebelum saya sampai disini tak pernah saya dengar nama negri ini, terlintaspun tidak, nama negri mereka "menurut saya " mewakili perawakan mereka: tinggi, besar, gede, hitam legam, dan betapa herannya saya ketika tau bahwa bahasa kedua mereka adalah bahasa Perancis, selidik punya selidik ternya Negara itu perbah dijajah Perancis, pantaslah, tapi mengangapa saya yg keturunan asli bumi pertiwi kok tidak bisa bahasa belanda? Bukankah Indonesia pernah "diasuh" oleh Belanda ?
Sisanya selalu terlambat, berantakan, dan tergopoh-gopoh adalah mahasiswa yg belum mendapat hidayah, mahluk paling menyedihkan penghuni bangku jejeran paling depan, jika dosen selesai menjelaskan, mereka berulang kali bertanya soal remeh temeh, sampai menjengkaelkan. Anak-anak ini melengkapi diri dengan perekam agar petuah dosen dapat diputar lagi di asrama. Norak dan repot selakali, neginilah akibat pengusaan bahasa arab ilmiah yg memalukan dan efek gizi buruk masa balita. Jika ide mahasiswa Negara lain demikian besar sampai ingin merubah dunia, ide mehasiswa ini sangat sederhana, bagaimana mereka dapat nilai makbul "cukup" agar tidak mengulang, sehingga dapat menghabiskan waktu sejadi-jadinya buat memasak rame-rame, bermain bola atau sekadar memberi semangat jika ia dicadangkan. Ide lainnya adalah bagaimana mencari uang jajan tambahan dg cara berjualan tempe atau gorengan, uang jajan tambahan itu disimpan untuk menyewa masbah "kolam renang",membeli kaos bola, atau membeli paket internet agar mereka masih bisa bercanda mesra dg kekasih mereka yg berada di negri mereka. Jika doktor Mustafa bin sumait selasai menyampaikan kuliah ushul mereka mengangguk takdzim, lagaknya seperti paham saja, padahal tak tahu apa yg sedang dibahas, kitab pun mereka kadang meminjam, mereka itu adalah mahasiswa Indonesia, termasuk saya, kami blingsatan, terbirit-birit mengejar ketinggalan.
#Di ilhami dari novel edensor
Sabtu, 28 Juni 2014
pelangi ku
16 tahun yg lalu kira-kira, di SD tempat kami para penerus remaja "gang putra" belajar, untuk pertama kalinya saya melihat dia, melihat rambut lurusnya, mata besarnya, memperhatikan kehebatan otak kanan nya, tanpa ada yg sadar, saya tak sadar, mereka tak sadar, dia pun tak sadar bahwa dia telah merampas hati saya.
Pada usia sekecil itu, reaksi kimia dalam diri saya mulai hidup, membuat saya gelisah tiap kali melihatnya, mata ini pun mulai belajar menghianati tuannya, susah rasanya untuk berhenti meliriknya, bagai warana merah pipi seorang nonik rusia ketika dirayu, bagai warna biru lazuardi tiap sore, bagai warna kuning cerah buah kurma di awal musim panas, dia adalah pelangi yg hidup di SD kami.
Memang setelah saya melanjutkan pendidikan saya ke luar kota, saya tak pernah bertemu dengan nya lagi, kecuali sekali, yaitu ketika beberapa sebelum saya terbang jauh tuk mengerjar cita-cita, tuhan mengizinkan saya bertemu dia sekali, setelah itu dia begitu jauh, hati saya sepi.
TAPI… tapi di pagi ini, tuhan menunjukkan kasih sayangnya, ketika saya membuka akun saya, saya melihat pelangi itu, ah…. indahnya tak terperih, ia terlihat lebih cerah seribu kali dari 16 tahun yg lalu, dg gaya yg sederhana tapi elegan, dia tersenyum, seakan waktu terhenti , saya tak bisa nafas, bagi saya dia begitu sempurna
Pada usia sekecil itu, reaksi kimia dalam diri saya mulai hidup, membuat saya gelisah tiap kali melihatnya, mata ini pun mulai belajar menghianati tuannya, susah rasanya untuk berhenti meliriknya, bagai warana merah pipi seorang nonik rusia ketika dirayu, bagai warna biru lazuardi tiap sore, bagai warna kuning cerah buah kurma di awal musim panas, dia adalah pelangi yg hidup di SD kami.
Memang setelah saya melanjutkan pendidikan saya ke luar kota, saya tak pernah bertemu dengan nya lagi, kecuali sekali, yaitu ketika beberapa sebelum saya terbang jauh tuk mengerjar cita-cita, tuhan mengizinkan saya bertemu dia sekali, setelah itu dia begitu jauh, hati saya sepi.
TAPI… tapi di pagi ini, tuhan menunjukkan kasih sayangnya, ketika saya membuka akun saya, saya melihat pelangi itu, ah…. indahnya tak terperih, ia terlihat lebih cerah seribu kali dari 16 tahun yg lalu, dg gaya yg sederhana tapi elegan, dia tersenyum, seakan waktu terhenti , saya tak bisa nafas, bagi saya dia begitu sempurna
ibu nomor satu sedunia
Malam itu udara terasa dingin, maklum lah, hujan perdana di bulan agustus ini mulai menampakkan batang hidungnya, aku yg dari sepulang sekolah tadi berlari-lari hampir lupa waktu dalam adegan "maling dikejar polisi" di bawah derasnya hujan bersama para teman-teman yg sekaligus merankap sebagai sepupu itu akhirnya terkapar lelah, tidur dg satu-satunya bantal guling dirumah, lengkap dg selimut tebal.
perlahan hawa dingin itu mulai terasa masuk kedalam tubuhku, karna selimut yg kami dapat dari seseorang sebagai hadiah pernikahan kakak ku itu sudah tak berada pada tempat nya, guling kesayanganku pun sudah mental entah kemana, aku terbangun karna ada orang yg menarik paksa selimut dan gulingku tadi, jam 2 dini hari, aku menggosok mata dg lengan kecilku, setelah setengah jam orang itu mencoba membangunkan ku, akhirnya Ia berhasil, aku terbangun, aku melihat sosok perempuan tua, ah EMA', pasti ia ingin kencing tapi takut, minta ditemani, ia tersenyum "yat… aku ingin kencing, ayo temani aku" begitu arti senyumnya. Karna selalu teringat tentang kisah malinkundang, aku pun bangkit menemani nya, dg selimut yg dililitkan dileher dan kupeluk erat guling semata wayang itu, sesaat setelah itu aku pun melanjutkan tidurku yg lelap, dan adzan subuh pun berkumandang.
Begitulah sedikit gambaran tentang ema' ku, gambaran tentang wanita sederhana, yg keinginan terbesarnya adalah bagaimana ia berhasil mendidik anak sulungnya ini agar ahlaq dan moralnya tak terkorupsi oleh terpuruknya peradaban manusia zaman sekarang.
Kalau boleh disamakan dg film di layar lebar, cerita tentang ibuku yg bangun tengah malam ingin kencing lalu memaksa anak sulungnya untuk menemaninya itu adalah flash back, dan tayangan sekarangnya: pagi ini jam 2 petang tepatnya, aku terbangun dari tidur lelapku, jauh dari wanita tua itu, di negri kaum saba', aku terbangun tapi tanpa ada yg membangunkan, selimutku pun masih pada tempatnya, (tapi kali ini aku tak punya guling), entah bagaimana awalnya tiba-tiba aku merasa seakan ada bola di dalam hati kecil ku, tambah lama tambah membesar, hati ku terasa sempit karna bola itu semakin lama semakin membesar, aaah itu adalah perasaan rindu sobat, rindu nian aku dengan dia, aku rindu dg senyum manjanya di tengah malam ketika ia ketakutan ingin kencing, rindu dg sentuhan tangan nya ketika ia hendak merapikan kopiah putihku sebelum aku berangkat mengaji, rindu dg omelan nya ketika aku pulang lari pagi dg membawa sebungkus nasi karna ia sudah susah payah memasak, aku rindu dg dekapan hangat nya, aku rindu dengan hj.Riama, Ibu nomer satu sedunia.
#habis UAS insya Allah aku telpon mak.
perlahan hawa dingin itu mulai terasa masuk kedalam tubuhku, karna selimut yg kami dapat dari seseorang sebagai hadiah pernikahan kakak ku itu sudah tak berada pada tempat nya, guling kesayanganku pun sudah mental entah kemana, aku terbangun karna ada orang yg menarik paksa selimut dan gulingku tadi, jam 2 dini hari, aku menggosok mata dg lengan kecilku, setelah setengah jam orang itu mencoba membangunkan ku, akhirnya Ia berhasil, aku terbangun, aku melihat sosok perempuan tua, ah EMA', pasti ia ingin kencing tapi takut, minta ditemani, ia tersenyum "yat… aku ingin kencing, ayo temani aku" begitu arti senyumnya. Karna selalu teringat tentang kisah malinkundang, aku pun bangkit menemani nya, dg selimut yg dililitkan dileher dan kupeluk erat guling semata wayang itu, sesaat setelah itu aku pun melanjutkan tidurku yg lelap, dan adzan subuh pun berkumandang.
Begitulah sedikit gambaran tentang ema' ku, gambaran tentang wanita sederhana, yg keinginan terbesarnya adalah bagaimana ia berhasil mendidik anak sulungnya ini agar ahlaq dan moralnya tak terkorupsi oleh terpuruknya peradaban manusia zaman sekarang.
Kalau boleh disamakan dg film di layar lebar, cerita tentang ibuku yg bangun tengah malam ingin kencing lalu memaksa anak sulungnya untuk menemaninya itu adalah flash back, dan tayangan sekarangnya: pagi ini jam 2 petang tepatnya, aku terbangun dari tidur lelapku, jauh dari wanita tua itu, di negri kaum saba', aku terbangun tapi tanpa ada yg membangunkan, selimutku pun masih pada tempatnya, (tapi kali ini aku tak punya guling), entah bagaimana awalnya tiba-tiba aku merasa seakan ada bola di dalam hati kecil ku, tambah lama tambah membesar, hati ku terasa sempit karna bola itu semakin lama semakin membesar, aaah itu adalah perasaan rindu sobat, rindu nian aku dengan dia, aku rindu dg senyum manjanya di tengah malam ketika ia ketakutan ingin kencing, rindu dg sentuhan tangan nya ketika ia hendak merapikan kopiah putihku sebelum aku berangkat mengaji, rindu dg omelan nya ketika aku pulang lari pagi dg membawa sebungkus nasi karna ia sudah susah payah memasak, aku rindu dg dekapan hangat nya, aku rindu dengan hj.Riama, Ibu nomer satu sedunia.
#habis UAS insya Allah aku telpon mak.
Langganan:
Postingan (Atom)