Malam itu udara terasa dingin, maklum lah, hujan perdana di bulan agustus ini mulai menampakkan batang hidungnya, aku yg dari sepulang sekolah tadi berlari-lari hampir lupa waktu dalam adegan "maling dikejar polisi" di bawah derasnya hujan bersama para teman-teman yg sekaligus merankap sebagai sepupu itu akhirnya terkapar lelah, tidur dg satu-satunya bantal guling dirumah, lengkap dg selimut tebal.
perlahan hawa dingin itu mulai terasa masuk kedalam tubuhku, karna selimut yg kami dapat dari seseorang sebagai hadiah pernikahan kakak ku itu sudah tak berada pada tempat nya, guling kesayanganku pun sudah mental entah kemana, aku terbangun karna ada orang yg menarik paksa selimut dan gulingku tadi, jam 2 dini hari, aku menggosok mata dg lengan kecilku, setelah setengah jam orang itu mencoba membangunkan ku, akhirnya Ia berhasil, aku terbangun, aku melihat sosok perempuan tua, ah EMA', pasti ia ingin kencing tapi takut, minta ditemani, ia tersenyum "yat… aku ingin kencing, ayo temani aku" begitu arti senyumnya. Karna selalu teringat tentang kisah malinkundang, aku pun bangkit menemani nya, dg selimut yg dililitkan dileher dan kupeluk erat guling semata wayang itu, sesaat setelah itu aku pun melanjutkan tidurku yg lelap, dan adzan subuh pun berkumandang.
Begitulah sedikit gambaran tentang ema' ku, gambaran tentang wanita sederhana, yg keinginan terbesarnya adalah bagaimana ia berhasil mendidik anak sulungnya ini agar ahlaq dan moralnya tak terkorupsi oleh terpuruknya peradaban manusia zaman sekarang.
Kalau boleh disamakan dg film di layar lebar, cerita tentang ibuku yg bangun tengah malam ingin kencing lalu memaksa anak sulungnya untuk menemaninya itu adalah flash back, dan tayangan sekarangnya: pagi ini jam 2 petang tepatnya, aku terbangun dari tidur lelapku, jauh dari wanita tua itu, di negri kaum saba', aku terbangun tapi tanpa ada yg membangunkan, selimutku pun masih pada tempatnya, (tapi kali ini aku tak punya guling), entah bagaimana awalnya tiba-tiba aku merasa seakan ada bola di dalam hati kecil ku, tambah lama tambah membesar, hati ku terasa sempit karna bola itu semakin lama semakin membesar, aaah itu adalah perasaan rindu sobat, rindu nian aku dengan dia, aku rindu dg senyum manjanya di tengah malam ketika ia ketakutan ingin kencing, rindu dg sentuhan tangan nya ketika ia hendak merapikan kopiah putihku sebelum aku berangkat mengaji, rindu dg omelan nya ketika aku pulang lari pagi dg membawa sebungkus nasi karna ia sudah susah payah memasak, aku rindu dg dekapan hangat nya, aku rindu dengan hj.Riama, Ibu nomer satu sedunia.
#habis UAS insya Allah aku telpon mak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar