tak terasa empat musim telah lewat sejak saya meninggalkan tanah air untuk mengejar indahnya cita-cita dan cerahnya masa depan. di bumi yg gersang dan tak rapi ini, saya sering menghela nafas panjang dan melarutkan nya ke dalam segelas teh hangat. panasnya suhu yg mencapai 43 derajat, dibarengi dg hembusan angin yg seolah bisa membuat kulit wajah anda menjadi kebab turki, memang tak mudah dimaklumi begitu saja. kejamnya dosen suria dan ketatnya undang undang akademis membuat saya merasa sedang dipunggungi nasib. seringnya mati lampu yg secara otomatis diikuti oleh matinya ac di musim panas membuat seluruh elemen negatif dalam diri saya -tempramental, egois, tak bersahabat- berpadu menjadi satu. dan ketika bulan oktober tiba, musim dingin ambil alih dalam memerankan peran antagonis ini, kalau anda punya segelas ember yg dipenuhi dg air es dan dicampur dg ulat bulu, lalu ditumpahkan pada kepada diri anda sendiri, apa yg anda rasakan? ... itu pula yg saya alami ketika musim dingin berkunjung, dingin dan gatal tak terperi kawan... blom lagi kawanan lalat yg semakin hari semakin liar.
tambah pahit dan sering teh saya seruput.
tapi ahir-ahir ini penderitaan itu mulai luntur, tau apa yg bisa melunturkan nya sobat? iya, benar, cinta...
idiiih... keren...
pernah saya lamunkan, bagaimana saya, seorang anak ras blasteran jawa dan madura, kurang tampan dan tak tinggi, bisa jatuh hati kepada wanita anggun dari keturunan kiai yg sangat disegani. ia tentu memiliki semua hak untuk menempatkan dirinya dalam pikiran yg sama seperti pikiran saya barusan. namum, sobat, jika kita tahu dengan siapa kita akan bertemu dan menikah seperti kita mengetahui bahwa satu tambah satu adalah dua, pastilah rusak tatanan indah dunia ini. untunglah semua itu tak pernah terjadi, semua masih misteri, jalani saja kehidupan anda, lakukan yg terbaik, dan yang tepenting jangan mendahului takdir atau mendekte cara kerja tuhan.
ah, jika terkenang putri kiai itu, akan senyum simpulnya, tatapan teduhnya, saya merasa tampan dan tinggi, saban mengingat ia sedang duduk anggun diruang tamu, sesekali mendengus ketus, atau ia sedang berpose ceria dengan baju kekecilan yan ia pinjam dari temannya, atau mengingat hidung pesek nya yg justru menurut saya disitulah letak gravitasi daya tariknya, seakan saya lupa akan penderitaan itu, dan saya mendapat alasan mengapa saya dilahirkan ke muka bumi ini sebagai orang jawa yg tak utuh atau orang madura yg tak genap, meski kurang tampan dan tak tinggi sekalipun, biarlah, suka suka tuhan lah. karna semua itu -senyum simpul, tatapan teduh, cara duduk yg anggun dan hidung pesek pusat gaya gravitasi- lebih dari cukup bagi saya untuk bekal mengarungi pahit manis perantauan di negri ratu balqis ini.