Jumat, 07 November 2014

al ahgaff university 2

Di tarim saya setiap hari diracuni ilmu meski saya tak ubahnya burung puyuh yg ter seruk-seruk mengejar induk belibis, universitas ini menawarkan pada kami sebuah petualangan intelektualitas dengan segala kemungkinan kemungkinan yg amat luas, setiap hari kami tertantang untuk memacu kereatifitas dalam bidang yg kami tekuni, kami menyimak kuliah selama satu setengah jam tapi pengetahuan yg kami peroleh seperti pengetahuan selama satu smester di tanah air.
Setiap hari selalu ada hal baru yg kami peroleh dalam bidang kami ini, kini ilmu fiqh yg dulunya saya anggap hanya sekedar ilmu "ini halal dan ini haram itu makruh" tak ubahnya bangunan baku yg telah lama teronggok dalam kepala saya terasa berubah bentuknya, hidup, menggeliat, bertambah kapasitasnya, dan semakin dalam intensitasnya.
kini kami mulai mengerti bagaimana para ulama' merenungi teks teks agama dan mengambil suatu hukum darinya, mengapa para muhadtisin mebuat syarat sayarat yg sulit untuk diterimanya suatu hadits, dan bagaimana para ahli ushul meletakan qaidah-qaidah untuk orang setelah mereka agar mereka tak hanya berpangku tangan, menelan mentah mentah hukum yg diwaristkan oleh ulama sebelum mereka, supaya mereka mau memakai otak mereka untuk tujuan utama mahluk itu diciptakan.
Sekarang saya mulai memahami arti ilmu fiqih sebagai suatu gaya hidup, solusi untuk semua masalah yg ada di tanah air, bahkan sebagai gaya hidup dan seni.
Semuanya karna dosen dosen yg hebat di universitas ini, mereka dapat menggambar kan dengan jelas gemunung ilmu islam yg hampir ditinggalkan oleh ummatmya, mereka menggambarkan dari sudut mana harus menyelusup tuk mendakinya, dan menunjukan patok-patok agar bisa sampai ke puncaknya, perlahan tapi pasti kami bermetamorfosis menjadi sosok yg tak kaku, bertoleransai pada semua perbedaan, menjauh dg yg namanya kefanatikan


Tapi selalu banyak tikungan dalam jalan yg anda tempuh, ketika anda mulai sibuk dengan arus berpikir dzohiriah, mencoba memahami qaidah-qaidah hanafiah, dan merenung teori-teori mu'tazilah, anda akan lupa kelembutan cinta, secara tak langsung mengorbankan panggilan jiwa anda sebagai laki-laki normal, hati anda akan sepi, sunyi, tak bertuan, mengenaskan.

‪#‎Semoga‬ semua pengorbanan kita tak kan sia-sia sobat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar