Ibuku adalah wanita madura pada umumnya, orang seperti dialah yang rela susah payah mengupas kelapa untuk mengirim makanan buat anaknya yang sedang menuntut ilmu di pondok pesantren, wanita seperti dialah yang sering memberi nasehat nasehat agama sehabis sholat maghrib agar moral anak sulungnya tak terkorupsi oleh bobroknya pergaulan zaman yg hampir kiamat ini, jika ada seorang wanita yg menggendong 2 anak sekaligus, sambil menanak nasi pagi pagi karna 2 anak itu akan menangis jika ia diturunkan, maka kalian akan melihat wajah seperti ibuku, dan kalu ada wanita tua banting tulang tuk menjual onde onde jawa demi membiayai kuliah anaknya di luar negri, maka tak lain tak bukan dia adalah ibuku. Orang tua, superhero, guru spiritual bagi kami, Ibu nomer satu sedunia.
Wajahnya seperti orang madura umumnya, mukanya oval, hidung nya mancung dikit, liar sifat anak anaknya telah banyak meninggalkan kerutan kerutan di dahinya, ia penyabar tapi tegas, acuh tak acuh tapi sangat perhatian, lebih sering marah dalam diam.tapi... kedua bola matanya itu, sang jendela hati, adalah layar yg mempertontonkanjiwanyabahwa dia tetaplah seorang wanita, mahluk tuhan yg ditakdirkan untuk dijaga dan disayang.
dia masih takut untuk buang air kecil di tengah malam (tentu kalian tak lupa ceritaku dulu itu).
Suatu malam dia membangunkan aku untuk sholat subuh dan menemaninya ke kamar mandi.Perlahan aku tertunduk diam, serasa ada malaikat yg mengetuk pintu hatiku, dadaku sesak, aku tersihir dalam senyap.Ah... hatiku terenyuh, aku melihat dibalik kuat dan hebatnya wanita ini, suatu sisi yg sangatlemah dan membutuhkan perhatian dr anak bujangnya yg mulai dewasa ini.Ajaibnya sang waktu, masalalu yg menjengkelkan (yaitu waktu menemaninya ke kamar mandi) lambat laun bisa menjadi nostalgia romantik yg tak ingin aku lupakan, serasa aku tak ingin kembali meneruskan studiku hanya untuk menemaninya di sisa hidupnya ini, tapi disisi lain Rindunya aku kepadanya semakin bertambah di pagi yg sendu ini, padahal belum hilang dia dari pandanganku, dan rasa ngilu dihatiku mengikrarkan bahwa aku harus jadi orang pintar, sebisaku, agar aku bisa membalas sedikit dari perjuangan malaikat ini.
Wajahnya seperti orang madura umumnya, mukanya oval, hidung nya mancung dikit, liar sifat anak anaknya telah banyak meninggalkan kerutan kerutan di dahinya, ia penyabar tapi tegas, acuh tak acuh tapi sangat perhatian, lebih sering marah dalam diam.tapi... kedua bola matanya itu, sang jendela hati, adalah layar yg mempertontonkanjiwanyabahwa dia tetaplah seorang wanita, mahluk tuhan yg ditakdirkan untuk dijaga dan disayang.
dia masih takut untuk buang air kecil di tengah malam (tentu kalian tak lupa ceritaku dulu itu).
Suatu malam dia membangunkan aku untuk sholat subuh dan menemaninya ke kamar mandi.Perlahan aku tertunduk diam, serasa ada malaikat yg mengetuk pintu hatiku, dadaku sesak, aku tersihir dalam senyap.Ah... hatiku terenyuh, aku melihat dibalik kuat dan hebatnya wanita ini, suatu sisi yg sangatlemah dan membutuhkan perhatian dr anak bujangnya yg mulai dewasa ini.Ajaibnya sang waktu, masalalu yg menjengkelkan (yaitu waktu menemaninya ke kamar mandi) lambat laun bisa menjadi nostalgia romantik yg tak ingin aku lupakan, serasa aku tak ingin kembali meneruskan studiku hanya untuk menemaninya di sisa hidupnya ini, tapi disisi lain Rindunya aku kepadanya semakin bertambah di pagi yg sendu ini, padahal belum hilang dia dari pandanganku, dan rasa ngilu dihatiku mengikrarkan bahwa aku harus jadi orang pintar, sebisaku, agar aku bisa membalas sedikit dari perjuangan malaikat ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar