beliau masuk kelas dan senyumnya merekah, senyum yg dg jelas menggambarkan betapa suashnya soal uas yg akan beliau racik kelak, senyum yg membawa duka bagi kami.
Kami yakin beliaulah yg telah dipilih tuhan untuk dinikahkan dg ilmu, dan beliau juga sangat menjunjung tinggi keseriusan dalam belajar, itu ditegaskan dg enggannya beliau memakai kitab yg dipakai kaka kelas kami sebelumnya, malah Beliau lebih tertarik untuk mengajar murid muridnya, yg patut dikasihani ini, dg kitab kitab fiqh muqoron klasik dalam perpustakaan fiqh islam. Kami diajak untuk mempelajari langsung kitab "alhawi kabir" milik almawardi, "almughni" karya ibn qudamah, "badai' shonai'" milik kasaani, dan juga "almuhalla" karya ibn hazm, Tanpa terikat dg satu malzamah.
Semangat belaiu untuk mempelajari itu semua menggetarkan benang benang halus dalam hati kami, kami tersihir dalam diam.
Tapi menurut saya pribadi, ini tak ada bedanya dengan perang melawan
isis,(karna beliau dr suria pastinya), tp jilid ke 4,(karna kami sudah 3
semester bertemu beliau), di medan baru yg blom kami tau,(karna hampir
tak pernah kami menyentuh kitab kitab itu), dan mereka mempunyai senjata
baru,(karna biasanya model soal uas itu akan berubah ketika kitabnya
berubah), persepsi tentang studi dan uas ini saya terjemahkan sendiri,
dan jangan sampai kalian contoh.
uas masih jauh tapi terlintas rasa ngilu dalam hati kami yg mengikrarkan janji bahwa kami akan belajar sungguh sunnguh.
uas masih jauh tapi terlintas rasa ngilu dalam hati kami yg mengikrarkan janji bahwa kami akan belajar sungguh sunnguh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar