Hampir semua media memberitakan bahwa yaman memanas, presidennya ingin turun, ia pindah ke kota lain karena ibu kota tempat istananya berada diduduki oleh pemberontak, dan semua duta besar dari berbagai negara ditarik pulang. Kenyataan yg dimuat media itu menjadikan satu hipotesis yg mencemaskan hati, tak terkecuali hati hati orang tua kami.
Ngeri rasanya mendengarnya, hawatir mereka melihatnya. Pemberitaan itu membekaskan cetak biru kehawatiran dalam alam bawah sadar mereka.
tapi tdk buat kami, sejak kami mengerti betul arti dari sebuah kata kata baru dalam hidup kami: semangat, harapan dan cita cita.
Malah, menurut saya pribadi ada pemandangan baru di asrama kami. Saya melihatnya seperti kereta ekonomi yg ada di pulau jawa, karna setiap habis absen malam, secara rutin ada sebagian teman teman kami,yg bisa dibilang menduduki strata rendah dlm keuangan, (karna rupiah terjun dengan gaya bebas ke titik terendah dlm sejarah perekonomian negara bineka tunggal ika kita.) Yg menurut saya mirip asongan.
mereka keliling ke kamar kamar untuk menjajahkan jualannya, mereka masuk dg salam yg lembut, bibir mereka mengulum senyum, tatapannya teduh, dg sabar mereka menawarkan jajahannya,
"Telur rebus mas... putih... seputih hatiku" kata salah satu dari mereka menggoda.
"Popcorn rasa, tuk menemani belajar anda" sahut yg lain tak mau kalah.
(Ah... bangsaku, bukankah kalian telah merdeka?)
Setiap gerak gerik mereka Santun, lembut, berseni, seolah Memperagakan busana armani yg sangat mahal diatas catwalk. "simetris" klo kata hamzi, teman saya, mungkin kalimat itu kurang tepat, tp biarlah pikir saya, saya tak punya waktu bertoleransi dg beban hidupnya.
Pemandangan itu memaku hati saya pada perasaan sayang pada bangsa saya sendiri, nasionalisme mungkin.
Tak cukup disitu sobat, Banyak nya saingan dlm medan ini menuntut setiap dr mereka tuk memacu kreatifitasan nya masing masing, itu dipertegas dg adanya yg menjual sosis goreng. Makroni manis asin, telur rebus, permen, ayam bakar, Bahkan ada yg nekat mengisi gas secara manual untuk mengais lembaran real real,
sadiiiis...
pastilah orang ini sama sekali tdk mempertimbangkan sedikitpun tentang keselamatannya.
tapi, anehnya... ketika mereka memasuki kamar saya, yg saya lihat bukan wajah polos mereka yg dg teguh menahan malu, tapi yg saya lihat adalah wajah para dewan di negri dongeng itu, wajah orang nomer satu di indonesia, wajah pemimpin yg katanya sangat dekat dg rakyat.
Ketika mereka menjajahkan dagangannya, saya tdk mendengar suara mereka yg saya dengar adalah janji janji manis bahwa perekonomian indonesia akan membaik, rupiah akan melejit, yg saya dengar dg jelas dengungkan revolusi mental.
Revolusi mental gundulmu...
Yg ada kalian merevolusi mental kami dg menggalaunya rupiah, yg tadinya mental pelajar tekun menjadi mental asongan hampir mati rasa.
Mungkin mereka telah berjuang melakukan yg terbaik buat negri kita? Mungkin juga tdk?
Mungkin mereka mencoba mengatur negri kita? Mungkin juga diatur?
Entahlah...
Semoga kita semua dirahmati allah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar